Salut! Mahasiswi Ini Buat Aplikasi Digital untuk Membantu Petani - Travenusa

Post Top Ad

Kamis, 14 September 2017

Salut! Mahasiswi Ini Buat Aplikasi Digital untuk Membantu Petani

Penemuannya Keren! | Fabian Januarius Kuwado/Kompas.com
Namanya Aini Novianty, cewek ini masih berusia 20 tahun. Aini adalah mahasiswa semester 7 jurusan Ilmu Informatika di Universitas Padjajaran, Bandung. Otak si bungsu dari empat bersaudara itu terbilang encer.

Bukti nyatanya adalah ia baru aja berkontribusi dalam menggarap teknologi ‘ Union Monitoring’ yang ia kembangkan. Cita-cita dari penemuannya itu diharapkan mampu membawa petani Indonesia ke arah sejahtera dan modern, bahkan melampaui Jepang.
Ceritanya gini, Aini dan kedua teman kampusnya, Dimas Fadli Nugraha dan Ferina Dewi Andreini meraih juara tiga tingkat nasional dalam lomba teknologi bertajuk 'Tech Development Challenge' yang diselenggarakan Institut Teknologi Bandung, Desember 2016 lalu.

Aini dkk dinilai para juri sukses mengembangkan sebuah teknologi bernama 'Union Monitoring' yang membantu kerja petani .
"Sederhananya, teknologi yang kami kembangkan ini adalah untuk mengidentifikasi apa yang dibutuhkan komoditas yang ditanam petani beserta tanahnya. Union Monitoring ini juga sebagai alat kontrol petani atas komoditas yang ditanam," ujar Aini saat ditemui Kompas.com di salah satu rumah tradisional masyarakat China di Beijing, Minggu (10/9) malam.

Di Beijing, Aini dan sembilan mahasiswa/i berprestasi lainnya sedang mengikuti pelatihan pengembangan information communication technology (ICT). Pelatihan bertajuk ‘ Huawei For the Future’ itu digelar oleh perusahaan teknologi asal China, Huawei.

Sejak 2013, Huawei konsisten menggelar pelatihan serupa. Platform Union Monitoring, papar wanita kelahiran Pasuruan, 30 November 1996 itu, terdiri dari tiga bagian, yakni Onsite, outsite, dan aplikasi di ponsel. Perangkat onsite yang secara fisik mirip router itu bertugas mengumpulkan data-data pertanian melalui teknologi algoritmanya.

Misalnya, temperatur udara, kelembaban udara, kelembaban tanah hingga kandungan unsur hara pada tanah. Perangkat onsite kemudian mengirimkan data ke perangkat outsite. Pada perangkat kedua inilah data diolah dan dianalisis menggunakan basis artificial intelligence yang disebut Aini masih pada tingkat sederhana. Hasil analisis itu akan tampil pada aplikasi pada ponsel sang petani.

“Hasil analisis itu berupa rekomendasi, apakah tanamannya harus disiram, ditambahi pupuk, dikurangi dari sinar matahari langsung atau pemeliharaan lainnya,” ujar Aini.

Aplikasi yang baru tersedia pada Android itu juga bisa sebagai alat kontrol. Petani tinggal memencet menu di dalamnya, ‘whuz’...jaringan selang/pipa Union Monitoring yang terpasang di ladang akan menyemburkan air atau pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Aplikasi juga akan menampilkan grafik proses pertumbuhan tanaman dari waktu ke waktu. Artinya, petani mampu menjaga kualitas komoditas (quality control).

“Teknologi ini sangat efektif dan efisien. Sebab, petani jadi tidak perlu membuang-buang air atau pupuk. Petani juga bisa mengontrol ladangnya dari jauh. Tidak perlu setiap hari datang ke ladang. Mungkin si petani bisa sambil usaha apa, gitu, perekonomiannya kan menjadi semakin naik,” lanjutnya.
Nyaris setahun berlalu setelah menciptakan Union Monitoring, Aini dkk masih terus mengembangkannya.
Mereka berupaya agar temuannya juga bisa mengidentifikasi atribut lain, salah satunya bagaimana mendeteksi serangan hama. Oleh sebab itu, mereka pun masih membiarkan Union Monitoring yang dikembangkannya hanya dengan modal Rp 1,5 juta itu sebagai prototipe.
“Kami belum punya izin resmi untuk dipasarkan, masih sebatas prototipe. Tapi kami sangat serius mengembangkan ini. Kami juga terus berkonsultasi dengan pakar pertanian agar teknologi kami nantinya semakin mantab dan tepat guna,” ujar dia.

Melampaui Jepang

Membantu petani Indonesia, menurut Aini, adalah tujuan dari teknologi yang ia dan kawan-kawannya kembangkan. Ia melihat potensi pertanian Indonesia luar biasa besar. Namun, belum dioptimalkan.

Kesejahteraan petani, sang ‘pemberi makan’ bangsa pun berada di level terendah. Di sisi lain, cewek yang mengidolakan Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil itu juga seakan tidak terima, masih banyak komoditas pertanian di Indonesia merupakan hasil impor.

“Jurusan saya (informatika) memang pure teknologi, tidak berhubungan dengan pertanian. Tapi bagi saya, ilmu kita itu tidak akan bernilai jika hanya untuk kita saja. Tapi akan bernilai jika digunakan di bidang lain, apalagi untuk orang banyak,” ujar Aini.

Sepuluh tahun mendatang, Aini punya mimpi. Dengan teknologi, ia membawa petani Indonesia ke arah sejahtera dan modern. Jepang merupakan patokannya menggapai mimpi tersebut.

“Kita lihat sekarang pertanian Jepang sangat maju karena teknologi. Indonesia sebenarnya juga punya potensi. Jadi kenapa tidak kita juga memanfaatkan teknologi? Mimpi saya pertanian Indonesia bisa lebih maju dari Jepang,” ujar cewek yang bercita-cita menjadi CEO perusahaan start-up di bidang IT tersebut.

Sumber Artikel

Post Bottom Ad